Masih hangat teringat di kepala saya
ketika bursa transfer pada pertengahan tahun 2013, carut maut perpindahan
pemain lintas dunia dengan banyak cara yaitu dengan cara habis masa kontraknya;
barter antar pemain; ataupun dibayar dengan mahar yang nilai nya fantastis. Tak
sedikit pula klub – klub yang menggemparkan jagat persepakbolaan dengan
memboyong sejumlah pemain dengan harga tinggi untuk mewujudkan target
kedepannya. Chelsea & AS Monaco contohnya, impian Jose Mourinho untuk
membuat Raksasa Biru London ini menjadi klub yang bergelimang trofi membuatnya
mengambil langkah besar yaitu memboyong sejumlah pemain dengan harga yang
fantastis, AS Monaco pun demikian terobsesinya untuk sukses kembali setelah
klub yang dulunya berjaya kemudian sempat terpuruk dengan terlemparnya mereka
ke Divisi kasta tengah Liga Prancis ini dan lalu kembali ke kasta utama Liga
Negara tersebut juga memboyong sejumlah pemain besar salah satu nya Radamel
Falcao dari Atletico Madrid dengan harga fantastis pula, tentunya AS Monaco
takkan bisa melakukan hal tersebut jika bukan lain karena pemilik baru nya yang
sangat kaya dan Chelsea pun demikian jika bukan karena suntikan dana dari Roman
Abramovic.
Pertengahan
Juli, Radamel Falcao masih sukses menjadi pemain termahal sementara pada kala
transfer itu sampai akhirnya dunia digemparkan dengan kepindahan Edinson Cavani
ke Paris-Saint Germany. Tanpa basa basi, tawaran dari beberapa klub besar salah
satunya Real Madrid untuk memboyong Cavani ke klub ditolak secara halus dengan
tanpa menunjukkan reaksi apapun dan tiba – tiba saja berita persetujuannya
pindah ke PSG membuat publik sepakbola agak sedikit kaget. Di kala itu juga,
Barcelona sukses memboyong bintang muda Brazil ke Camp Nou, tanpa terlalu
banyak desas desus Neymar Jr menjalani tes medis dan tak lama kemudian ia resmi
berseragam Azulgrana.
Pada masa – masa transfer tersebut, sebenarnya ada satu pemain yang selalu dibicarakan namanya dan pemain ini melalui masa yang panjang agar dapat pindah ke klub impiannya sejak kecil. Gareth Bale, pemain fantastis asal Wales ini mengawali karir nya sebagai pemain bertahan di Tottenham Hotspurs, namun karena hasrat untuk gol nya yang begitu tinggi membuat ia perlahan maju sampai ke barisan depan serangan. Jalannya pun tak mulus kala di Tottenham, seringkali ia mengalami cidera yang beragam yang membuatnya tak bisa bermain selama beberapa minggu bahkan hitungan bulan. Welshman (Sebutan yang diberikan Harian Marca kepadanya) perlahan menjadi singa buas yang haus akan gol, kedisiplinannya dibuktikan dengan ia menjadi satu – satu pemain dari kalangan klub under dog (Sebutan untuk klub yang tidak diunggulkan pada liga tertentu) yang mampu mencetak Hat-trick pada Liga Champions 2012 – 2013.
Kala
itu kabar Gareth Bale menjadi simpang siur, di satu sisi ada pemberitaan bahwa
Bale lebih memilih untuk ke Manchester United ketimbang ke Raksasa Spanyol Real
Madrid, kala itu pula PSG mencoba memperkeruh suasana dengan memberikan tawaran
kepada Welshman tersebut. Namun, Madridista (sebutan untuk fans Real Madrid)
yakin bahwa tekad Bale sudah bulat untuk melaju ke Santiago Bernabeu dan
bergabung bersama idola nya yaitu Cristiano Ronaldo. Jalannya tak mudah, Daniel
Levy selaku pemilik Tottenham Hotspurs menahannya agar tetap White Hart Lane
setidaknya untuk satu musim lagi, Levy mengupayakan segala cara agar Bale tak
pergi.
Selama
masa yang simpang siur ini, publik banyak yang kecewa dengan sikap Bale yang
selalu mangkir dari latihan & tur pra-musim. Ada berita bahwa Bale
melakukan itu karena sedang dalam masa penyembuhan cedera nya, ada berita pula
bahwa Bale melakukan itu agar ia segera diizinkan pergi ke Real Madrid. Lantas,
manakah yang benar dari dua berita tersebut? Dengan sepenuh keyakinan saya
jawab bahwa dua berita itu sama – sama benar. Di satu sisi, Bale yang pada saat
akhir musim 2013 sedang dalam masa penyembuhan cedera, namun disisi lain ia
melakukan ini sebagai bentuk protesnya agar dapat segera diizinkan pindah.
Proses
negosiasi berjalan dengan sangat alot, Daniel Levy dengan arogan mematok harga
Bale begitu tinggi yaitu sekitar 150 Juta Dollar hingga Chairman Tottenham ini
mendapat cemoohan dari banyak pelatih salah satunya Arsene Wenger, Florentino
Perez selaku Presiden Real Madrid dengan sabar nya terus melakukan pendekatan,
begitu sabarnya ia sehingga tak sadar bahwa jendela transfer ditutup 2 minggu
lagi.
Titik
terang sudah mulai didapatkan, kala itu terdengar desas – desus bahwa kedua
pihak sepakat untuk melepas Bale ke Real Madrid dengan harga 100 Juta Dollar,
desas desus itu pun semakin kuat dengan secara tiba – tiba ada Jersey dengan
nomor punggung 11 bertuliskan Bale yang dijual di toko resmi Real Madrid, lalu
ada nya panggung besar yang dipasang di Santiago Bernabeu, dan hadirnya nama
Gareth Bale sebagai salah satu dari daftar pemain di website resmi Real Madrid.
Daniel
Levy marah bukan kepalang, desas – desus yang belum jelas kebenarannya ini
membuat ia menahan Bale untuk beberapa saat agar publik tidak terlalu berharap.
Namun takdir memang berkata sesuai dengan perkataan Madridista, pada 3 hari
sebelum jendela transfer ditutup publik Bernabeu dengan lega nya melihat Bale
sedang melakukan tes medis di Kota Madrid yang lalu disusul dengan pengukuhan
nya sebagai pemain resmi Real Madrid yang menyandang nomor punggung 11 pada
keesokan hari nya.
Ada
yang datang maka ada pula yang pergi. Belum habis kegembiraan publik Madrid,
lalu mereka diguncang dengan kepindahan sang Raja Assist Mesut Ozil ke Arsenal
pada detik – detik sebelum jendela transfer ditutup. Rasa kecewa pasti ada,
namun publik Madrid sepertinya ikhlas melepas kepergian Ozil demi kebaikan
kedua belah pihak. Belum selesai kesedihan itu, publik Madrid digoncang kembali
dengan kepindahan Kaka ke klub lama nya yaitu AC Milan dengan status free
transfer. Kali ini publik Madrid tak begitu kecewa, karena mungkin ini jalan
terbaik bagi Kaka setelah 3 tahun performa nya semakin menurun kala berseragam
putih.
Ozil,
Kaka, Higuan, Callejon, dan sejumlah pemain pergi. Tapi nampaknya pelatih baru
Los Blancos yaitu Carlo Ancelotti tidak begitu khawatir karena skuat nya di isi
dengan banyak pemain yang siap untuk bersaing di berbagi liga, Don Carletto
malah terlihat kewalahan karena harus sering melakukan rotasi pemain agar
menemukan komposisi terbaik.
Kembali
ke benang merah yang disesuaikan dengan judul. Pantaskah Gareth Bale menyandang
gelar sebagai pemain termahal dengan bandrol 100 Juta Dollar? Menurut saya
tinggal waktu yang membuktikan. Saya selalu mengamati pemain ini, terlihat ia
cepat beradaptasi dan mulai progress untuk mewujudkan cita – cita Real Madrid,
gol demi gol disumbangkan oleh Bale, dan ia pun dengan manisnya setia menjadi
pengatur posisi bola yang pas kala idola nya yaitu Cristiano Ronaldo akan
melakukan tendangan bebas. Terakhir kali ketika saya menulis ini, yang pada
saat itu CR7 sedang tidak bisa bermain karena cidera, Bale sukses mengemban
tugas CR7 dengan menjebloskan Hat-trick di liga domestik.
Bale
pun progress dan saya rasa secepatnya ia akan berhasil. Lantas, masih timbul
pertanyaan dalam hati, mengapa Florentino Perez segila itu menggelontorkan dana
100 Juta Dollar untuk satu pemain dari klub papan tengah divisi utama Liga
Inggris? Pasti anda pun banyak yang menganggap Perez gila, boros, salah
langkah, bahkan bodoh. Namun, apakah orang bodoh dapat membuat Real Madrid yang
tadinya terbelit hutang lalu menjadi klub olahraga terkaya di dunia dengan
debit terakhir sekitar 3,3 Milyar Dollar? Lantas mengapa ia rela membeli Bale
dengan harga mahal? Saya pun berpikir keras, sampai suatu saat saya mendapatkan
jawabannya. Ya, La Decima.
Kelakuan
Perez yang membuat banyak orang menganggap dia gila itu sebenarnya untuk satu
tujuan utama Real Madrid yaitu La Decima. Trofi kesepuluh Liga Champions, trofi
yang hanya bisa didapatkan dan diwujudkan oleh Real Madrid. Apakah ada yang
bisa selain Real Madrid? Tentu jawabannya, Liga Champions harus dimenangkan AC
Milan 3 tahun berturut – turut, bagi Bayern Munchen 5 tahun berturut – turut,
bagi Barcelona 6 tahun berturut – turut, dan bagi klub lain beberapa tahun
lebih berturut – turut. Apakah mudah? Real Madrid saja memenangi trofi Liga
Champions kesembilannya pada tahun 2002 dan kini sudah menunggu sampai 11 tahun
belum terwujud juga.
Anda
mengerti maksud saya mengapa Florentino Perez bisa menjadi segila itu? Jika iya
berarti anda sepaham dengan saya, jika tidak mohon jangan dipaksakan Karena ini
hanya pemikiran saya saja.





0 komentar:
Posting Komentar