Jumat, 06 Desember 2013

Gareth Bale. The 100 Million Dollar Man. Pantaskah Ia Menyandangnya?


Masih hangat teringat di kepala saya ketika bursa transfer pada pertengahan tahun 2013, carut maut perpindahan pemain lintas dunia dengan banyak cara yaitu dengan cara habis masa kontraknya; barter antar pemain; ataupun dibayar dengan mahar yang nilai nya fantastis. Tak sedikit pula klub – klub yang menggemparkan jagat persepakbolaan dengan memboyong sejumlah pemain dengan harga tinggi untuk mewujudkan target kedepannya. Chelsea & AS Monaco contohnya, impian Jose Mourinho untuk membuat Raksasa Biru London ini menjadi klub yang bergelimang trofi membuatnya mengambil langkah besar yaitu memboyong sejumlah pemain dengan harga yang fantastis, AS Monaco pun demikian terobsesinya untuk sukses kembali setelah klub yang dulunya berjaya kemudian sempat terpuruk dengan terlemparnya mereka ke Divisi kasta tengah Liga Prancis ini dan lalu kembali ke kasta utama Liga Negara tersebut juga memboyong sejumlah pemain besar salah satu nya Radamel Falcao dari Atletico Madrid dengan harga fantastis pula, tentunya AS Monaco takkan bisa melakukan hal tersebut jika bukan lain karena pemilik baru nya yang sangat kaya dan Chelsea pun demikian jika bukan karena suntikan dana dari Roman Abramovic.
           
Pertengahan Juli, Radamel Falcao masih sukses menjadi pemain termahal sementara pada kala transfer itu sampai akhirnya dunia digemparkan dengan kepindahan Edinson Cavani ke Paris-Saint Germany. Tanpa basa basi, tawaran dari beberapa klub besar salah satunya Real Madrid untuk memboyong Cavani ke klub ditolak secara halus dengan tanpa menunjukkan reaksi apapun dan tiba – tiba saja berita persetujuannya pindah ke PSG membuat publik sepakbola agak sedikit kaget. Di kala itu juga, Barcelona sukses memboyong bintang muda Brazil ke Camp Nou, tanpa terlalu banyak desas desus Neymar Jr menjalani tes medis dan tak lama kemudian ia resmi berseragam Azulgrana.
             
Pada masa – masa transfer tersebut, sebenarnya ada satu pemain yang selalu dibicarakan namanya dan pemain ini melalui masa yang panjang agar dapat pindah ke klub impiannya sejak kecil. Gareth Bale, pemain fantastis asal Wales ini mengawali karir nya sebagai pemain bertahan di Tottenham Hotspurs, namun karena hasrat untuk gol nya yang begitu tinggi membuat ia perlahan maju sampai ke barisan depan serangan. Jalannya pun tak mulus kala di Tottenham, seringkali ia mengalami cidera yang beragam yang membuatnya tak bisa bermain selama beberapa minggu bahkan hitungan bulan. Welshman (Sebutan yang diberikan Harian Marca kepadanya) perlahan menjadi singa buas yang haus akan gol, kedisiplinannya dibuktikan dengan ia menjadi satu – satu pemain dari kalangan klub under dog (Sebutan untuk klub yang tidak diunggulkan pada liga tertentu) yang mampu mencetak Hat-trick pada Liga Champions 2012 – 2013.

Kala itu kabar Gareth Bale menjadi simpang siur, di satu sisi ada pemberitaan bahwa Bale lebih memilih untuk ke Manchester United ketimbang ke Raksasa Spanyol Real Madrid, kala itu pula PSG mencoba memperkeruh suasana dengan memberikan tawaran kepada Welshman tersebut. Namun, Madridista (sebutan untuk fans Real Madrid) yakin bahwa tekad Bale sudah bulat untuk melaju ke Santiago Bernabeu dan bergabung bersama idola nya yaitu Cristiano Ronaldo. Jalannya tak mudah, Daniel Levy selaku pemilik Tottenham Hotspurs menahannya agar tetap White Hart Lane setidaknya untuk satu musim lagi, Levy mengupayakan segala cara agar Bale tak pergi.
            
Selama masa yang simpang siur ini, publik banyak yang kecewa dengan sikap Bale yang selalu mangkir dari latihan & tur pra-musim. Ada berita bahwa Bale melakukan itu karena sedang dalam masa penyembuhan cedera nya, ada berita pula bahwa Bale melakukan itu agar ia segera diizinkan pergi ke Real Madrid. Lantas, manakah yang benar dari dua berita tersebut? Dengan sepenuh keyakinan saya jawab bahwa dua berita itu sama – sama benar. Di satu sisi, Bale yang pada saat akhir musim 2013 sedang dalam masa penyembuhan cedera, namun disisi lain ia melakukan ini sebagai bentuk protesnya agar dapat segera diizinkan pindah.
             
Proses negosiasi berjalan dengan sangat alot, Daniel Levy dengan arogan mematok harga Bale begitu tinggi yaitu sekitar 150 Juta Dollar hingga Chairman Tottenham ini mendapat cemoohan dari banyak pelatih salah satunya Arsene Wenger, Florentino Perez selaku Presiden Real Madrid dengan sabar nya terus melakukan pendekatan, begitu sabarnya ia sehingga tak sadar bahwa jendela transfer ditutup 2 minggu lagi.
             
Titik terang sudah mulai didapatkan, kala itu terdengar desas – desus bahwa kedua pihak sepakat untuk melepas Bale ke Real Madrid dengan harga 100 Juta Dollar, desas desus itu pun semakin kuat dengan secara tiba – tiba ada Jersey dengan nomor punggung 11 bertuliskan Bale yang dijual di toko resmi Real Madrid, lalu ada nya panggung besar yang dipasang di Santiago Bernabeu, dan hadirnya nama Gareth Bale sebagai salah satu dari daftar pemain di website resmi Real Madrid.
            


Daniel Levy marah bukan kepalang, desas – desus yang belum jelas kebenarannya ini membuat ia menahan Bale untuk beberapa saat agar publik tidak terlalu berharap. Namun takdir memang berkata sesuai dengan perkataan Madridista, pada 3 hari sebelum jendela transfer ditutup publik Bernabeu dengan lega nya melihat Bale sedang melakukan tes medis di Kota Madrid yang lalu disusul dengan pengukuhan nya sebagai pemain resmi Real Madrid yang menyandang nomor punggung 11 pada keesokan hari nya.
             
Ada yang datang maka ada pula yang pergi. Belum habis kegembiraan publik Madrid, lalu mereka diguncang dengan kepindahan sang Raja Assist Mesut Ozil ke Arsenal pada detik – detik sebelum jendela transfer ditutup. Rasa kecewa pasti ada, namun publik Madrid sepertinya ikhlas melepas kepergian Ozil demi kebaikan kedua belah pihak. Belum selesai kesedihan itu, publik Madrid digoncang kembali dengan kepindahan Kaka ke klub lama nya yaitu AC Milan dengan status free transfer. Kali ini publik Madrid tak begitu kecewa, karena mungkin ini jalan terbaik bagi Kaka setelah 3 tahun performa nya semakin menurun kala berseragam putih.
             
Ozil, Kaka, Higuan, Callejon, dan sejumlah pemain pergi. Tapi nampaknya pelatih baru Los Blancos yaitu Carlo Ancelotti tidak begitu khawatir karena skuat nya di isi dengan banyak pemain yang siap untuk bersaing di berbagi liga, Don Carletto malah terlihat kewalahan karena harus sering melakukan rotasi pemain agar menemukan komposisi terbaik.
             
Kembali ke benang merah yang disesuaikan dengan judul. Pantaskah Gareth Bale menyandang gelar sebagai pemain termahal dengan bandrol 100 Juta Dollar? Menurut saya tinggal waktu yang membuktikan. Saya selalu mengamati pemain ini, terlihat ia cepat beradaptasi dan mulai progress untuk mewujudkan cita – cita Real Madrid, gol demi gol disumbangkan oleh Bale, dan ia pun dengan manisnya setia menjadi pengatur posisi bola yang pas kala idola nya yaitu Cristiano Ronaldo akan melakukan tendangan bebas. Terakhir kali ketika saya menulis ini, yang pada saat itu CR7 sedang tidak bisa bermain karena cidera, Bale sukses mengemban tugas CR7 dengan menjebloskan Hat-trick di liga domestik.
             
Bale pun progress dan saya rasa secepatnya ia akan berhasil. Lantas, masih timbul pertanyaan dalam hati, mengapa Florentino Perez segila itu menggelontorkan dana 100 Juta Dollar untuk satu pemain dari klub papan tengah divisi utama Liga Inggris? Pasti anda pun banyak yang menganggap Perez gila, boros, salah langkah, bahkan bodoh. Namun, apakah orang bodoh dapat membuat Real Madrid yang tadinya terbelit hutang lalu menjadi klub olahraga terkaya di dunia dengan debit terakhir sekitar 3,3 Milyar Dollar? Lantas mengapa ia rela membeli Bale dengan harga mahal? Saya pun berpikir keras, sampai suatu saat saya mendapatkan jawabannya. Ya, La Decima.
            
Kelakuan Perez yang membuat banyak orang menganggap dia gila itu sebenarnya untuk satu tujuan utama Real Madrid yaitu La Decima. Trofi kesepuluh Liga Champions, trofi yang hanya bisa didapatkan dan diwujudkan oleh Real Madrid. Apakah ada yang bisa selain Real Madrid? Tentu jawabannya, Liga Champions harus dimenangkan AC Milan 3 tahun berturut – turut, bagi Bayern Munchen 5 tahun berturut – turut, bagi Barcelona 6 tahun berturut – turut, dan bagi klub lain beberapa tahun lebih berturut – turut. Apakah mudah? Real Madrid saja memenangi trofi Liga Champions kesembilannya pada tahun 2002 dan kini sudah menunggu sampai 11 tahun belum terwujud juga.
             
Anda mengerti maksud saya mengapa Florentino Perez bisa menjadi segila itu? Jika iya berarti anda sepaham dengan saya, jika tidak mohon jangan dipaksakan Karena ini hanya pemikiran saya saja.

0 komentar:

Posting Komentar