Jumat, 06 Desember 2013

Apa Semangat Hidup Anda ?

Kehidupan mempunyai asal kata yaitu hidup, dan definisi hidup sendiri bagi manusia adalah selama nafas ini masih berhembus maka manusia bisa melakukan segala sesuatu yang diingingkan. Namun, ada batas – batas, ada peraturan baik tertulis maupun tak tertulis, yang membuat kita seperti di kotak – kotak kan, yang membuat seakan kita sebagai seorang manusia yang sedang berjalan bebas di lapangan tak berujung lalu tiba – tiba turunlah banyak sekali papan – papan seakan papan tersebut membuat jalan di antara kita dan memaksa kita harus melalui jalan yang telah dibuat oleh papan tersebut. Papan kehidupan tersebut tidak tinggi sehingga kita bisa melihat ke area luar papan yang penuh kebebasan dan sangat menggoda. Namun lagi, terkadang ketika situasi yang sangat jenuh, kita akan nekat untuk melompati papan tersebut dan berjalan ke dunia luas, tentu ada dua resiko yang didapatkan oleh manusia yang istilahnya out of the box, yang pertama yaitu ia mendapatkan sebuah kebebasan hakiki dan cara sendiri yang mana papan di dalam ternyata lebih buruk caranya, dan yang kedua adalah manusia tersebut sendiri menjadi lebih simpang siur dan tak terarah hidupnya karena luasnya kebebasan yang ia dapatkan. Bagaimana cara membuktikan out of the box itu jadi benar atau salah? Waktu lah yang dapat menjawabnya.

Pahit kenyataan yang harus di dapat, ternyata hidup ketika kita dibatas – batasi oleh segudang peraturan dan batas – batas entah itu batas yang Tuhan ciptakan atau leluhur ciptakan sebenarnya merupakan defisini seutuhnya dari Kehidupan. Sungguh malang nasib manusia, dibandingkan dengan hewan dan malaikat yang pasti masuk surga, dan setan yang pasti masuk neraka namun bebas melakukan apa saja. Manusia hidup di tengah – tengah nya, tanpa kepastian semenjak lahir hingga hari akhir.

Orang tua bijak mengatakan bahwa kalau mau bebas ya seperti setan saja sedangkan kalau mau menurut ya seperti malaikat saja, tentu ganjaran atas kedua nya sangat lah berbeda. Lalu untuk apa Tuhan menciptakan manusia akal, pikiran, nafsu, dan sebagainya? Mari kita bicara nafsu saja, Tuhan menganugerahkan hal tersebut kepada manusia sedangkan Tuhan sendiri menyuruh kita untuk menahannya, kita bagaikan membeli sebuah barang sehari – hari yang sangat langka yang mana itu adalah barang sehari – hari yang kita gunakan namun karena saking langka nya akhir nya kita tidak memakai nya dan hanya memajang barang itu rapih – rapih di rak khusus.

Nyata nya, kehidupan pahit itu yang harus kita lakukan hingga akhir masa hidup kita. Muncul lah sebuah pepatah yang agak konyol namun masuk di akal yaitu ‘Hidup itu seperti diperkosa, daripada berontak lebih baik nikmati saja enaknya’. Terdengar konyol sekali namun benar adanya. Saya yakin dengan seyakin – yakin nya bahwa Tuhan melakukan hal ini kepada manusia agar manusia mendapatkan pelajaran sebanyak – banyaknya serta menjadi tahu bagaimana harus bersikap, lantas Tuhan membuat sebuah pernyataan agar kita dapat selalu mengarungi kerasnya hidup ini yaitu ‘Bersyukur’. Ya, apapun kejadian kita, kita harus tetap bersyukur.

Manusia yang tetap berusaha bertahan hidup akhirnya mencari – cari sesuatu yang membuatnya seakan dapat merefleksikan pikiran yang terlalu keruh nya. Mulai dari melakukan hal buruk misalkan berjudi, mabuk dan lain sebagainya, pokoknya masalah bebas dahulu untuk sementara. Lalu yang lebih waras mencari jalan lain yaitu dengan hobi, apapun jenis hobi nya yang membuat orang itu senang seakan menjadi semangat hidup nya. Setiap orang berbeda, bagi saya khususnya, pasangan hidup adalah suatu yang menurut saya lebih dari cukup untuk menjadi semangat dalam diri saya.

Mari kita sedikit menilik tentang track record kehidupan saya. Waktu kecil kehidupan saya terlihat menyenangkan, saya dapat mewujudkan apa yang saya inginkan, momen kebahagiaan orang tua saya yang ingin memiliki anak setelah 5 tahun menikah saya manfaatkan dengan meminta apa yang saya inginkan. Hari demi hari berlalu, saya tumbuh besar bersama lingkungan di sekitar saya, pada suatu waktu saya terguncang mental nya dengan. Bagaimana tidak? Saya melihat sendiri orang tua saya melanggar ikatan janji suci nya. Sontak ketika masa pertumbuhan remaja, hidup saya hanya ada hitam dan putih, saya melakukan apapun untuk kesenangan, lingkungan buruk dalam pertumbuhan remaja saya dengan mudahnya membujuk saya menjadi seorang remaja yang seenaknya mengayunkan senjata tajam ke tubuh orang lain. Saya menjadi orang yang sangat aneh dan tak berperasaan ketika itu.

Beranjak ke akhir masa remaja, ketika masa menengah atas saya melihat sesosok warna dalam hidup saya. Ya, wanita itu seakan menjadi ciptaan Tuhan untuk kehidupan baik saya. Kehidupan saya mulai berwarna setelah itu, melalui susah dan senang, intinya apapun kejadiannya saya bahagia.

Apa saya pernah merasa jenuh dan menyia – nyiakannya? Dengan tegas saya jawab IYA. Saya menjadi orang yang aneh pada kala itu, saya pun heran mengap saya dulu bisa menjadi seperti itu. Tapi terlepas dari semua kebodohan saya itu, janganlah diragukan bahwa rasa sayang saya takkan pernah hilang.

Dalam agama saya tak diajarkan yang namanya Karma, namun ada ungkapan ‘kebaikan atau keburukan sebesar biji kurma pun akan di balas dengan hal yang sama’. Maka hingga saat saya menulis artikel ini, saya sedang dilanda kerumitan, rasa pesimis yang menerjang saya begitu kuat dan rasa optimis saya yang didorong atas dasar sayang berkumpul menjadi satu seakan kedua rasa itu sedang berperang dalam jangka waktu yang sangat lama akan tetapi satu detik pun dalam peperangan itu terasa lama sekali. Mungkin hanya langkah kecil perpisahan akan membuat saya terjun kembali kepada dunia hitam putih tak berwarna. Namun, ada sebuah keyakinan dalam diri saya, bahwa bahagia akan datang.

Anda tentunya banyak yang bertanya seakan saya membahas kehidupan saja susah sekali. Saya takkan heran, angka kematian dengan umur yang tinggi memang banyak di Indonesia. Saya salut dengan masyarakat Indonesia yang sangat kuat untuk hidup. Namun, tengoklah masyarakat Jepang dan coba mulai bahas hal itu di pikiran anda.

Untuk yang saya kasihi, mudah – mudahan dengan jalan apapun yang kamu mau, akan membuat kehidupan dan penghidupan kamu lebih baik. Aku tak bisa egois, aku juga tak bisa hanya memikirkan diriku saja sedangkan untuk kebahagiaan yang kamu inginkan dengan cara kamu tidak. Selamat jalan.


0 komentar:

Posting Komentar