Kehidupan mempunyai asal kata
yaitu hidup, dan definisi hidup sendiri bagi manusia adalah selama nafas ini
masih berhembus maka manusia bisa melakukan segala sesuatu yang diingingkan.
Namun, ada batas – batas, ada peraturan baik tertulis maupun tak tertulis, yang
membuat kita seperti di kotak – kotak kan, yang membuat seakan kita sebagai
seorang manusia yang sedang berjalan bebas di lapangan tak berujung lalu tiba –
tiba turunlah banyak sekali papan – papan seakan papan tersebut membuat jalan
di antara kita dan memaksa kita harus melalui jalan yang telah dibuat oleh
papan tersebut. Papan kehidupan tersebut tidak tinggi sehingga kita bisa
melihat ke area luar papan yang penuh kebebasan dan sangat menggoda. Namun
lagi, terkadang ketika situasi yang sangat jenuh, kita akan nekat untuk
melompati papan tersebut dan berjalan ke dunia luas, tentu ada dua resiko yang
didapatkan oleh manusia yang istilahnya out of the box, yang pertama yaitu ia
mendapatkan sebuah kebebasan hakiki dan cara sendiri yang mana papan di dalam
ternyata lebih buruk caranya, dan yang kedua adalah manusia tersebut sendiri
menjadi lebih simpang siur dan tak terarah hidupnya karena luasnya kebebasan
yang ia dapatkan. Bagaimana cara membuktikan out of the box itu jadi benar atau
salah? Waktu lah yang dapat menjawabnya.
Pahit kenyataan yang harus di
dapat, ternyata hidup ketika kita dibatas – batasi oleh segudang peraturan dan
batas – batas entah itu batas yang Tuhan ciptakan atau leluhur ciptakan
sebenarnya merupakan defisini seutuhnya dari Kehidupan. Sungguh malang nasib
manusia, dibandingkan dengan hewan dan malaikat yang pasti masuk surga, dan
setan yang pasti masuk neraka namun bebas melakukan apa saja. Manusia hidup di
tengah – tengah nya, tanpa kepastian semenjak lahir hingga hari akhir.
Orang tua bijak mengatakan bahwa
kalau mau bebas ya seperti setan saja sedangkan kalau mau menurut ya seperti
malaikat saja, tentu ganjaran atas kedua nya sangat lah berbeda. Lalu untuk apa
Tuhan menciptakan manusia akal, pikiran, nafsu, dan sebagainya? Mari kita
bicara nafsu saja, Tuhan menganugerahkan hal tersebut kepada manusia sedangkan
Tuhan sendiri menyuruh kita untuk menahannya, kita bagaikan membeli sebuah
barang sehari – hari yang sangat langka yang mana itu adalah barang sehari –
hari yang kita gunakan namun karena saking langka nya akhir nya kita tidak
memakai nya dan hanya memajang barang itu rapih – rapih di rak khusus.
Nyata nya, kehidupan pahit itu
yang harus kita lakukan hingga akhir masa hidup kita. Muncul lah sebuah pepatah
yang agak konyol namun masuk di akal yaitu ‘Hidup itu seperti diperkosa,
daripada berontak lebih baik nikmati saja enaknya’. Terdengar konyol sekali
namun benar adanya. Saya yakin dengan seyakin – yakin nya bahwa Tuhan melakukan
hal ini kepada manusia agar manusia mendapatkan pelajaran sebanyak – banyaknya
serta menjadi tahu bagaimana harus bersikap, lantas Tuhan membuat sebuah
pernyataan agar kita dapat selalu mengarungi kerasnya hidup ini yaitu
‘Bersyukur’. Ya, apapun kejadian kita, kita harus tetap bersyukur.
Manusia yang tetap berusaha
bertahan hidup akhirnya mencari – cari sesuatu yang membuatnya seakan dapat
merefleksikan pikiran yang terlalu keruh nya. Mulai dari melakukan hal buruk
misalkan berjudi, mabuk dan lain sebagainya, pokoknya masalah bebas dahulu
untuk sementara. Lalu yang lebih waras mencari jalan lain yaitu dengan hobi,
apapun jenis hobi nya yang membuat orang itu senang seakan menjadi semangat
hidup nya. Setiap orang berbeda, bagi saya khususnya, pasangan hidup adalah
suatu yang menurut saya lebih dari cukup untuk menjadi semangat dalam diri
saya.
Mari kita sedikit menilik tentang
track record kehidupan saya. Waktu kecil kehidupan saya terlihat menyenangkan,
saya dapat mewujudkan apa yang saya inginkan, momen kebahagiaan orang tua saya
yang ingin memiliki anak setelah 5 tahun menikah saya manfaatkan dengan meminta
apa yang saya inginkan. Hari demi hari berlalu, saya tumbuh besar bersama
lingkungan di sekitar saya, pada suatu waktu saya terguncang mental nya dengan.
Bagaimana tidak? Saya melihat sendiri orang tua saya melanggar ikatan janji
suci nya. Sontak ketika masa pertumbuhan remaja, hidup saya hanya ada hitam dan
putih, saya melakukan apapun untuk kesenangan, lingkungan buruk dalam
pertumbuhan remaja saya dengan mudahnya membujuk saya menjadi seorang remaja
yang seenaknya mengayunkan senjata tajam ke tubuh orang lain. Saya menjadi
orang yang sangat aneh dan tak berperasaan ketika itu.
Beranjak ke akhir masa remaja,
ketika masa menengah atas saya melihat sesosok warna dalam hidup saya. Ya,
wanita itu seakan menjadi ciptaan Tuhan untuk kehidupan baik saya. Kehidupan
saya mulai berwarna setelah itu, melalui susah dan senang, intinya apapun
kejadiannya saya bahagia.
Apa saya pernah merasa jenuh dan
menyia – nyiakannya? Dengan tegas saya jawab IYA. Saya menjadi orang yang aneh
pada kala itu, saya pun heran mengap saya dulu bisa menjadi seperti itu. Tapi
terlepas dari semua kebodohan saya itu, janganlah diragukan bahwa rasa sayang
saya takkan pernah hilang.
Dalam agama saya tak diajarkan
yang namanya Karma, namun ada ungkapan ‘kebaikan atau keburukan sebesar biji
kurma pun akan di balas dengan hal yang sama’. Maka hingga saat saya menulis
artikel ini, saya sedang dilanda kerumitan, rasa pesimis yang menerjang saya
begitu kuat dan rasa optimis saya yang didorong atas dasar sayang berkumpul
menjadi satu seakan kedua rasa itu sedang berperang dalam jangka waktu yang
sangat lama akan tetapi satu detik pun dalam peperangan itu terasa lama sekali.
Mungkin hanya langkah kecil perpisahan akan membuat saya terjun kembali kepada
dunia hitam putih tak berwarna. Namun, ada sebuah keyakinan dalam diri saya,
bahwa bahagia akan datang.
Anda tentunya banyak yang
bertanya seakan saya membahas kehidupan saja susah sekali. Saya takkan heran,
angka kematian dengan umur yang tinggi memang banyak di Indonesia. Saya salut
dengan masyarakat Indonesia yang sangat kuat untuk hidup. Namun, tengoklah
masyarakat Jepang dan coba mulai bahas hal itu di pikiran anda.
Untuk yang saya kasihi, mudah –
mudahan dengan jalan apapun yang kamu mau, akan membuat kehidupan dan
penghidupan kamu lebih baik. Aku tak bisa egois, aku juga tak bisa hanya
memikirkan diriku saja sedangkan untuk kebahagiaan yang kamu inginkan dengan
cara kamu tidak. Selamat jalan.





0 komentar:
Posting Komentar