• [FanFict] Oshiku, Ternyata...

    Di suatu siang yang terik, kala itu ketika bel istirahat istirahat berbunyi, salah satu temanku yang membawa laptop langsung dikerubungi oleh teman laki-laki nya, ku hitung ada sekitar sepuluh orang lebih berkumpul bersama termasuk ada murid dari kelas lain. Pikirku “ngapain yah itu anak – anak pada ngumpul, wah jangan – jangan.....?” [...]

  • SENBASTU JKT48 SINGLE RIVER

    Pada tanggal 23 April 2013 tepatnya pada malam hari, ada sebuah pertunjukkan yang ditunggu – tunggu oleh sebagian besar bahkan seluruh fans dari Sister Group yang berada di Indonesia ini yaitu JKT48. Mereka melangsungkan show spesial ‘Heavy Rotation’ yang sangat kental unsurnya dengan album yang baru saja mereka keluarkan.[...]

  • [FanFict] Merangkai Ekspresi Yang Tak Ternilai Harganya

    Siang itu, ketika diriku sedang asyiknya mengagumi seorang idola, seseorang yang bukan aku saja yang mengidolakan tetapi khalayak banyak bahkan sangat banyak lewat internet. Ya, namanya adalah Shania Junianatha, dia adalah seorang member JKT48 Team J yang sejak pertama kali Idol Group itu terbentuk sudah aku kagumi. [...]

Jumat, 06 Desember 2013

Sedikit Cerita Motivasi Hidup

Best Medicine

Selama dua dekade, pada abad ini, beberapa bayi (dalam jumlah yang besar) di bawah umur 1 tahun harus menghabiskan waktu mereka berada di rumah sakit dan beberapa institusi anak-anak dan beberapa dari mereka meninggal dengan alasan yang tidak jelas. Di beberapa institusi, adalah hal yang biasa kasus-kasus bayi dengan kondisi yang sangat serius dalam catatan administrasi mereka dituliskan kata “tidak ada harapan”.
Di antara beberapa dokter yang sehari-harinya sering dihadapkan dengan angka kematian bayi yang tinggi adalah Dr. Fritz Talbot dari sebuah klinik anak-anak di Dusseldorf. Dr. Talbot memiliki kesuksesan yang luar biasa dalam menangani anak-anak yang sakit. Selama bertahun-tahun, dia selalu diikuti oleh kelompok dokter rumah sakit yang ingin mencari cara baru untuk menangani penyakit anak-anak.
Salah satu diantara dokter tersebut adalah Dr. Joseph Brennermann, yang menceritakan kisah ini.
“Seringkali kami mendatangi seorang anak yang telah dinyatakan tak dapat tertolong lagi. Dan dengan beberapa alasan anak ini dinyatakan tak memiliki harapan. Dan ketika hal ini terjadi, Dr. Talbot akan mengambil tabel catatan kesehatan anak itu dan menuliskan beberapa resep obat yang tak dapat ditemukan. Dan dalam kebanyakan kasus, formula ajaib tersebut berkhasiat dan si anak berangsur membaik. Kecurigaanku timbul dan aku berpikir apakah mungkin dokter yang terkenal ini telah mengembangkan jenis obat baru yang mujarab?”
“Suatu hari, aku kembali ke bangsal anak-anak itu dan mencoba untuk menterjemahkan catatan resep Dr. Talbot. Tapi aku tak beruntung, dan lalu aku mendatangi kepala perawat dan menanyai apa resep obat yang diberikan Dr. Talbot tersebut.”
“’Anna.’ jawabnya. Lalu ia kemudian menunjuk seorang nenek perempuan yang sedang duduk di sebuah ayunan yang besar dengan seorang bayi di pangkuannya. Perawat tersebut kemudian melanjutkan: ‘Kapanpun disaat kami mendapatkan seorang bayi yang padanya telah kami lakukan segala cara untuk menyembuhkannya namun gagal, kami membawa bayi tersebut kepada Anna. Dia lebih berhasil dibandingkan semua dokter dan perawat di institusi ini.’”



Bahan Renungan:

Obat yang paling mujarab adalah cinta.
Cinta dapat menyembuhkan. Cinta adalah doa, doa dari mereka yang mencintai dan menyayangi kita.
Dan dengan dicintai akan memberi kita kekuatan terbesar.
Cinta itu pelajaran. Cinta adalah hikmah, adalah kebenaran. Mencintai orang lain adalah pelajaran berharga. Mencintai hidup adalah pelajaran terpenting. Kita akan hidup lebih baik.

Inspirational Quote:
‘Love cures people, the ones who receive love and the ones who give it, too.’ -(Karl Menninger) 


When You Divorce Me, Carry Me Out in Your Arms

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening : Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka-sangka, Dew hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartemen yg kubelikan untuknya.

Dew berkata, “kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis.” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.” Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalau aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya.

Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, “kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor”. Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin.

Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka.Sejujurnya ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan? ” Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari dirinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.

ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya. Dia kelihatan sedikit curiga. Dia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku,”He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, aku memegang tangannya. “Ada sesuatu yg harus kukatakan”.

Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalau aku terus berpikir. “Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.

Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku,tapi ia bertanya secara lembut,”kenapa?” “Aku serius.”Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku, “Kamu bukan laki-laki!”.

Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.

Dengan perasaan yg amat bersalah, aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa menarik kembali apa yg telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali.
Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya : ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana : Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,” He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya, “jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.” Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” ia mencemooh Kata- katanya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,”wah, papa membopong mama, mesra sekali”. Kata-katanya membuatku merasa sakit. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan dirinya dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,”mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita.” Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, Kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi di bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi. Beberapa kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “kebun diluar sedang dibongkar. Hati-hati kalau kamu lewat sana.” Hari keempat,ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.

Bayangan Dew menjadi samar.

Pada hari kelima dan keenam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yg telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat.

Aku tidak memberitahu Dew tentang hal ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang”

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok. Lalu ia melihat, “semua pakaianku kebesaran”. Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya, sebab ia semakin kurus, itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit.

Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa, sudah waktunya membopong mama keluar.” Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua.” Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, aku tidak ingin bercerai. Aku serius”.

Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. “Kamu tidak demam.” Kutepiskan tanganya dari dahiku. “Maaf Dew, aku cuma bisa bilang maaf padamu, aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”.

Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor.

Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga. Ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjualnya bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum dan menulis : “Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.”


Inilah Cinta

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.

Setahun sudah lewat sejak Susan, 34, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustrasi dan rasa kasihan pada diri sendiri.

Sebagai wanita yang independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya dan menjadi beban bagi semua orang disekelilingnya. “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?” dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapapun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu penglihatannya takkan pernah pulih lagi.

Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus.

Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.

Akhirnya Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak dipinggir kota yang berseberangan.

Mula - mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak.

Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. “Aku buta!” tukasnya dengan pahit. “Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku” Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri. Dan itulah yang terjadi. Selama 2 minggu penuh Mark, menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan 1 kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya.

Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya, wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah.

Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya 1 bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi kearah yang berlawanan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis … Setiap hari dijalaninya dengan sempurna.

Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jum’at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata :”wah, aku iri padamu”. Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untk menjalani hidup?

Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir, “Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?” Sopir itu menjawab, “Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu”. Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya.”Apa maksudmu?” Kau tahu minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung”. kata sopir itu.

Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk meyakinkan diri, hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan.





 

The Secret of Happiness

Ada seorang anak yatim piatu yang tak punya keluarga dan tak ada yang mencitainya. Pada suatu hari, saat ia sedang berjalan-jalan di padang rumput sambil merasa sangat sedih dan kesepian, ia melihat seekor kupu-kupu kecil terperangkap dalam semak berduri. Semakin kuat kupu-kupu itu berjuang untuk membebaskan diri, semakin dalam duri menusuk tubuhnya yang rapuh. Dengan hati-hati anak yatim piatu itu melepaskan kupu-kupu itu dari perangkapnya.

Kupu-kupu itu tidak terbang, tapi berubah menjadi peri yang cantik.

Anak kecil itu menggosok matanya karena tak percaya.

“Untuk kebaikan hatimu,” peri baik itu berkata pada si anak “Aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Si anak kecil berpikir sejenak lalu menjawab, “Aku ingin bahagia!”

Peri itu berkata, “Baiklah,” lalu mencondongkan tubuhnya pada si anak dan berbisih di telinganya.

Lalu peri baik itu menghilang.

Saat anak kecil itu tumbuh dewasa, tak ada orang lain yang sebahagia dirinya. Semua orang menanyakan rahasia kebahagiaannya. Ia hanya tersenyum dan menjawab “Rahasia kebahagiaanku adalah aku mendengarkan nasihat seorang peri baik waktu aku masih kecil.”

Waktu ia sudah tua dan akan menemui ajal, tetangganya berkumpul di kamarnya, takut kalau rahasia kebahagiaannya akan dibawa mati.

“Katakanlah pada kami,” mereka memohon “Katakanlah apa yang dikatakan peri baik itu,”

Wanita tua cantik itu hanya tersenyum dan berkata, “Ia memberitahuku bahwa semua orang, tak peduli mereka tampak semapan apapun, setua atau semuda apapun, sekaya atau semiskin apapun, mereka memerlukanku.”

Apa Semangat Hidup Anda ?

Kehidupan mempunyai asal kata yaitu hidup, dan definisi hidup sendiri bagi manusia adalah selama nafas ini masih berhembus maka manusia bisa melakukan segala sesuatu yang diingingkan. Namun, ada batas – batas, ada peraturan baik tertulis maupun tak tertulis, yang membuat kita seperti di kotak – kotak kan, yang membuat seakan kita sebagai seorang manusia yang sedang berjalan bebas di lapangan tak berujung lalu tiba – tiba turunlah banyak sekali papan – papan seakan papan tersebut membuat jalan di antara kita dan memaksa kita harus melalui jalan yang telah dibuat oleh papan tersebut. Papan kehidupan tersebut tidak tinggi sehingga kita bisa melihat ke area luar papan yang penuh kebebasan dan sangat menggoda. Namun lagi, terkadang ketika situasi yang sangat jenuh, kita akan nekat untuk melompati papan tersebut dan berjalan ke dunia luas, tentu ada dua resiko yang didapatkan oleh manusia yang istilahnya out of the box, yang pertama yaitu ia mendapatkan sebuah kebebasan hakiki dan cara sendiri yang mana papan di dalam ternyata lebih buruk caranya, dan yang kedua adalah manusia tersebut sendiri menjadi lebih simpang siur dan tak terarah hidupnya karena luasnya kebebasan yang ia dapatkan. Bagaimana cara membuktikan out of the box itu jadi benar atau salah? Waktu lah yang dapat menjawabnya.

Pahit kenyataan yang harus di dapat, ternyata hidup ketika kita dibatas – batasi oleh segudang peraturan dan batas – batas entah itu batas yang Tuhan ciptakan atau leluhur ciptakan sebenarnya merupakan defisini seutuhnya dari Kehidupan. Sungguh malang nasib manusia, dibandingkan dengan hewan dan malaikat yang pasti masuk surga, dan setan yang pasti masuk neraka namun bebas melakukan apa saja. Manusia hidup di tengah – tengah nya, tanpa kepastian semenjak lahir hingga hari akhir.

Orang tua bijak mengatakan bahwa kalau mau bebas ya seperti setan saja sedangkan kalau mau menurut ya seperti malaikat saja, tentu ganjaran atas kedua nya sangat lah berbeda. Lalu untuk apa Tuhan menciptakan manusia akal, pikiran, nafsu, dan sebagainya? Mari kita bicara nafsu saja, Tuhan menganugerahkan hal tersebut kepada manusia sedangkan Tuhan sendiri menyuruh kita untuk menahannya, kita bagaikan membeli sebuah barang sehari – hari yang sangat langka yang mana itu adalah barang sehari – hari yang kita gunakan namun karena saking langka nya akhir nya kita tidak memakai nya dan hanya memajang barang itu rapih – rapih di rak khusus.

Nyata nya, kehidupan pahit itu yang harus kita lakukan hingga akhir masa hidup kita. Muncul lah sebuah pepatah yang agak konyol namun masuk di akal yaitu ‘Hidup itu seperti diperkosa, daripada berontak lebih baik nikmati saja enaknya’. Terdengar konyol sekali namun benar adanya. Saya yakin dengan seyakin – yakin nya bahwa Tuhan melakukan hal ini kepada manusia agar manusia mendapatkan pelajaran sebanyak – banyaknya serta menjadi tahu bagaimana harus bersikap, lantas Tuhan membuat sebuah pernyataan agar kita dapat selalu mengarungi kerasnya hidup ini yaitu ‘Bersyukur’. Ya, apapun kejadian kita, kita harus tetap bersyukur.

Manusia yang tetap berusaha bertahan hidup akhirnya mencari – cari sesuatu yang membuatnya seakan dapat merefleksikan pikiran yang terlalu keruh nya. Mulai dari melakukan hal buruk misalkan berjudi, mabuk dan lain sebagainya, pokoknya masalah bebas dahulu untuk sementara. Lalu yang lebih waras mencari jalan lain yaitu dengan hobi, apapun jenis hobi nya yang membuat orang itu senang seakan menjadi semangat hidup nya. Setiap orang berbeda, bagi saya khususnya, pasangan hidup adalah suatu yang menurut saya lebih dari cukup untuk menjadi semangat dalam diri saya.

Mari kita sedikit menilik tentang track record kehidupan saya. Waktu kecil kehidupan saya terlihat menyenangkan, saya dapat mewujudkan apa yang saya inginkan, momen kebahagiaan orang tua saya yang ingin memiliki anak setelah 5 tahun menikah saya manfaatkan dengan meminta apa yang saya inginkan. Hari demi hari berlalu, saya tumbuh besar bersama lingkungan di sekitar saya, pada suatu waktu saya terguncang mental nya dengan. Bagaimana tidak? Saya melihat sendiri orang tua saya melanggar ikatan janji suci nya. Sontak ketika masa pertumbuhan remaja, hidup saya hanya ada hitam dan putih, saya melakukan apapun untuk kesenangan, lingkungan buruk dalam pertumbuhan remaja saya dengan mudahnya membujuk saya menjadi seorang remaja yang seenaknya mengayunkan senjata tajam ke tubuh orang lain. Saya menjadi orang yang sangat aneh dan tak berperasaan ketika itu.

Beranjak ke akhir masa remaja, ketika masa menengah atas saya melihat sesosok warna dalam hidup saya. Ya, wanita itu seakan menjadi ciptaan Tuhan untuk kehidupan baik saya. Kehidupan saya mulai berwarna setelah itu, melalui susah dan senang, intinya apapun kejadiannya saya bahagia.

Apa saya pernah merasa jenuh dan menyia – nyiakannya? Dengan tegas saya jawab IYA. Saya menjadi orang yang aneh pada kala itu, saya pun heran mengap saya dulu bisa menjadi seperti itu. Tapi terlepas dari semua kebodohan saya itu, janganlah diragukan bahwa rasa sayang saya takkan pernah hilang.

Dalam agama saya tak diajarkan yang namanya Karma, namun ada ungkapan ‘kebaikan atau keburukan sebesar biji kurma pun akan di balas dengan hal yang sama’. Maka hingga saat saya menulis artikel ini, saya sedang dilanda kerumitan, rasa pesimis yang menerjang saya begitu kuat dan rasa optimis saya yang didorong atas dasar sayang berkumpul menjadi satu seakan kedua rasa itu sedang berperang dalam jangka waktu yang sangat lama akan tetapi satu detik pun dalam peperangan itu terasa lama sekali. Mungkin hanya langkah kecil perpisahan akan membuat saya terjun kembali kepada dunia hitam putih tak berwarna. Namun, ada sebuah keyakinan dalam diri saya, bahwa bahagia akan datang.

Anda tentunya banyak yang bertanya seakan saya membahas kehidupan saja susah sekali. Saya takkan heran, angka kematian dengan umur yang tinggi memang banyak di Indonesia. Saya salut dengan masyarakat Indonesia yang sangat kuat untuk hidup. Namun, tengoklah masyarakat Jepang dan coba mulai bahas hal itu di pikiran anda.

Untuk yang saya kasihi, mudah – mudahan dengan jalan apapun yang kamu mau, akan membuat kehidupan dan penghidupan kamu lebih baik. Aku tak bisa egois, aku juga tak bisa hanya memikirkan diriku saja sedangkan untuk kebahagiaan yang kamu inginkan dengan cara kamu tidak. Selamat jalan.


Gareth Bale. The 100 Million Dollar Man. Pantaskah Ia Menyandangnya?


Masih hangat teringat di kepala saya ketika bursa transfer pada pertengahan tahun 2013, carut maut perpindahan pemain lintas dunia dengan banyak cara yaitu dengan cara habis masa kontraknya; barter antar pemain; ataupun dibayar dengan mahar yang nilai nya fantastis. Tak sedikit pula klub – klub yang menggemparkan jagat persepakbolaan dengan memboyong sejumlah pemain dengan harga tinggi untuk mewujudkan target kedepannya. Chelsea & AS Monaco contohnya, impian Jose Mourinho untuk membuat Raksasa Biru London ini menjadi klub yang bergelimang trofi membuatnya mengambil langkah besar yaitu memboyong sejumlah pemain dengan harga yang fantastis, AS Monaco pun demikian terobsesinya untuk sukses kembali setelah klub yang dulunya berjaya kemudian sempat terpuruk dengan terlemparnya mereka ke Divisi kasta tengah Liga Prancis ini dan lalu kembali ke kasta utama Liga Negara tersebut juga memboyong sejumlah pemain besar salah satu nya Radamel Falcao dari Atletico Madrid dengan harga fantastis pula, tentunya AS Monaco takkan bisa melakukan hal tersebut jika bukan lain karena pemilik baru nya yang sangat kaya dan Chelsea pun demikian jika bukan karena suntikan dana dari Roman Abramovic.
           
Pertengahan Juli, Radamel Falcao masih sukses menjadi pemain termahal sementara pada kala transfer itu sampai akhirnya dunia digemparkan dengan kepindahan Edinson Cavani ke Paris-Saint Germany. Tanpa basa basi, tawaran dari beberapa klub besar salah satunya Real Madrid untuk memboyong Cavani ke klub ditolak secara halus dengan tanpa menunjukkan reaksi apapun dan tiba – tiba saja berita persetujuannya pindah ke PSG membuat publik sepakbola agak sedikit kaget. Di kala itu juga, Barcelona sukses memboyong bintang muda Brazil ke Camp Nou, tanpa terlalu banyak desas desus Neymar Jr menjalani tes medis dan tak lama kemudian ia resmi berseragam Azulgrana.
             
Pada masa – masa transfer tersebut, sebenarnya ada satu pemain yang selalu dibicarakan namanya dan pemain ini melalui masa yang panjang agar dapat pindah ke klub impiannya sejak kecil. Gareth Bale, pemain fantastis asal Wales ini mengawali karir nya sebagai pemain bertahan di Tottenham Hotspurs, namun karena hasrat untuk gol nya yang begitu tinggi membuat ia perlahan maju sampai ke barisan depan serangan. Jalannya pun tak mulus kala di Tottenham, seringkali ia mengalami cidera yang beragam yang membuatnya tak bisa bermain selama beberapa minggu bahkan hitungan bulan. Welshman (Sebutan yang diberikan Harian Marca kepadanya) perlahan menjadi singa buas yang haus akan gol, kedisiplinannya dibuktikan dengan ia menjadi satu – satu pemain dari kalangan klub under dog (Sebutan untuk klub yang tidak diunggulkan pada liga tertentu) yang mampu mencetak Hat-trick pada Liga Champions 2012 – 2013.

Kala itu kabar Gareth Bale menjadi simpang siur, di satu sisi ada pemberitaan bahwa Bale lebih memilih untuk ke Manchester United ketimbang ke Raksasa Spanyol Real Madrid, kala itu pula PSG mencoba memperkeruh suasana dengan memberikan tawaran kepada Welshman tersebut. Namun, Madridista (sebutan untuk fans Real Madrid) yakin bahwa tekad Bale sudah bulat untuk melaju ke Santiago Bernabeu dan bergabung bersama idola nya yaitu Cristiano Ronaldo. Jalannya tak mudah, Daniel Levy selaku pemilik Tottenham Hotspurs menahannya agar tetap White Hart Lane setidaknya untuk satu musim lagi, Levy mengupayakan segala cara agar Bale tak pergi.
            
Selama masa yang simpang siur ini, publik banyak yang kecewa dengan sikap Bale yang selalu mangkir dari latihan & tur pra-musim. Ada berita bahwa Bale melakukan itu karena sedang dalam masa penyembuhan cedera nya, ada berita pula bahwa Bale melakukan itu agar ia segera diizinkan pergi ke Real Madrid. Lantas, manakah yang benar dari dua berita tersebut? Dengan sepenuh keyakinan saya jawab bahwa dua berita itu sama – sama benar. Di satu sisi, Bale yang pada saat akhir musim 2013 sedang dalam masa penyembuhan cedera, namun disisi lain ia melakukan ini sebagai bentuk protesnya agar dapat segera diizinkan pindah.
             
Proses negosiasi berjalan dengan sangat alot, Daniel Levy dengan arogan mematok harga Bale begitu tinggi yaitu sekitar 150 Juta Dollar hingga Chairman Tottenham ini mendapat cemoohan dari banyak pelatih salah satunya Arsene Wenger, Florentino Perez selaku Presiden Real Madrid dengan sabar nya terus melakukan pendekatan, begitu sabarnya ia sehingga tak sadar bahwa jendela transfer ditutup 2 minggu lagi.
             
Titik terang sudah mulai didapatkan, kala itu terdengar desas – desus bahwa kedua pihak sepakat untuk melepas Bale ke Real Madrid dengan harga 100 Juta Dollar, desas desus itu pun semakin kuat dengan secara tiba – tiba ada Jersey dengan nomor punggung 11 bertuliskan Bale yang dijual di toko resmi Real Madrid, lalu ada nya panggung besar yang dipasang di Santiago Bernabeu, dan hadirnya nama Gareth Bale sebagai salah satu dari daftar pemain di website resmi Real Madrid.
            


Daniel Levy marah bukan kepalang, desas – desus yang belum jelas kebenarannya ini membuat ia menahan Bale untuk beberapa saat agar publik tidak terlalu berharap. Namun takdir memang berkata sesuai dengan perkataan Madridista, pada 3 hari sebelum jendela transfer ditutup publik Bernabeu dengan lega nya melihat Bale sedang melakukan tes medis di Kota Madrid yang lalu disusul dengan pengukuhan nya sebagai pemain resmi Real Madrid yang menyandang nomor punggung 11 pada keesokan hari nya.
             
Ada yang datang maka ada pula yang pergi. Belum habis kegembiraan publik Madrid, lalu mereka diguncang dengan kepindahan sang Raja Assist Mesut Ozil ke Arsenal pada detik – detik sebelum jendela transfer ditutup. Rasa kecewa pasti ada, namun publik Madrid sepertinya ikhlas melepas kepergian Ozil demi kebaikan kedua belah pihak. Belum selesai kesedihan itu, publik Madrid digoncang kembali dengan kepindahan Kaka ke klub lama nya yaitu AC Milan dengan status free transfer. Kali ini publik Madrid tak begitu kecewa, karena mungkin ini jalan terbaik bagi Kaka setelah 3 tahun performa nya semakin menurun kala berseragam putih.
             
Ozil, Kaka, Higuan, Callejon, dan sejumlah pemain pergi. Tapi nampaknya pelatih baru Los Blancos yaitu Carlo Ancelotti tidak begitu khawatir karena skuat nya di isi dengan banyak pemain yang siap untuk bersaing di berbagi liga, Don Carletto malah terlihat kewalahan karena harus sering melakukan rotasi pemain agar menemukan komposisi terbaik.
             
Kembali ke benang merah yang disesuaikan dengan judul. Pantaskah Gareth Bale menyandang gelar sebagai pemain termahal dengan bandrol 100 Juta Dollar? Menurut saya tinggal waktu yang membuktikan. Saya selalu mengamati pemain ini, terlihat ia cepat beradaptasi dan mulai progress untuk mewujudkan cita – cita Real Madrid, gol demi gol disumbangkan oleh Bale, dan ia pun dengan manisnya setia menjadi pengatur posisi bola yang pas kala idola nya yaitu Cristiano Ronaldo akan melakukan tendangan bebas. Terakhir kali ketika saya menulis ini, yang pada saat itu CR7 sedang tidak bisa bermain karena cidera, Bale sukses mengemban tugas CR7 dengan menjebloskan Hat-trick di liga domestik.
             
Bale pun progress dan saya rasa secepatnya ia akan berhasil. Lantas, masih timbul pertanyaan dalam hati, mengapa Florentino Perez segila itu menggelontorkan dana 100 Juta Dollar untuk satu pemain dari klub papan tengah divisi utama Liga Inggris? Pasti anda pun banyak yang menganggap Perez gila, boros, salah langkah, bahkan bodoh. Namun, apakah orang bodoh dapat membuat Real Madrid yang tadinya terbelit hutang lalu menjadi klub olahraga terkaya di dunia dengan debit terakhir sekitar 3,3 Milyar Dollar? Lantas mengapa ia rela membeli Bale dengan harga mahal? Saya pun berpikir keras, sampai suatu saat saya mendapatkan jawabannya. Ya, La Decima.
            
Kelakuan Perez yang membuat banyak orang menganggap dia gila itu sebenarnya untuk satu tujuan utama Real Madrid yaitu La Decima. Trofi kesepuluh Liga Champions, trofi yang hanya bisa didapatkan dan diwujudkan oleh Real Madrid. Apakah ada yang bisa selain Real Madrid? Tentu jawabannya, Liga Champions harus dimenangkan AC Milan 3 tahun berturut – turut, bagi Bayern Munchen 5 tahun berturut – turut, bagi Barcelona 6 tahun berturut – turut, dan bagi klub lain beberapa tahun lebih berturut – turut. Apakah mudah? Real Madrid saja memenangi trofi Liga Champions kesembilannya pada tahun 2002 dan kini sudah menunggu sampai 11 tahun belum terwujud juga.
             
Anda mengerti maksud saya mengapa Florentino Perez bisa menjadi segila itu? Jika iya berarti anda sepaham dengan saya, jika tidak mohon jangan dipaksakan Karena ini hanya pemikiran saya saja.

Senin, 04 November 2013

Apakah Arti Sakit Hati Bagi Anda?


Sakit hati? Ya, kata – kata itu terdengar sangat berlebihan dan membuat anda mendengar bahwa ada orang yang sedang sakit hati terlihat sangat lemah mentalnya. Tapi, bagi sebagian orang sakit hati itu memang benaradanya dan tak di buat – buat.
Apakah yang menurut anda dapat membuat sakit hati? Tentubanyak sekali. Mulai dari persoalan cinta, dikhianati teman, di maki – maki oleh atasan anda, hingga sampai dimarahi oleh orang tua sendiri.

Bagi saya, sakit hati yang paling utama, yang membuat saya merasa menjadi sampah di dunia ini dan bahkan ingin segera mengakhiri hidup adalah: ketika pengorbanan/niat baik/hal berguna yang saya perbuat tidakdihargai sedikit pun oleh orang lain.
Lantas, bagaimana menyembuhkan sakit hati? Tentu banyak pula caranya, mulai dari memanjatkan doa – doa ketenangan hati kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mengalihkan perhatian dengan hiburan – hiburan yang disukai, hingga yang membuat sakit hati orang itu sendiri meminta maaf dengan penuh kesungguhan.

Saya lebih suka cara yang paling terakhir. Bukan bermaksud mendahului Tuhan, namun Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa Ia tidak akan memaafkan manusia ketika manusia itu membuat suatu perbuatan tercela kepada orang lain. Sebegitu mungkar nya Tuhan kepada manusia padahal Ia adalah Sosok Yang Maha Pemaaf.

Lalu, bagaimana caranya untuk meminta maaf? Satu prinsip yang selalu saya pegang tentang meminta maaf, yaitu bersungguh – sungguh. Lucu rasanya bagi saya ketika ada orang yang harus diajari bagaimana cara meminta maaf, karena jika kita bersungguh – sungguh maka kita pula lah yang akan menemukan cara terbaik untuk meminta maaf. Soalnya yang kita sakiti itu bukankah orang yang dekat dengan kita dan kita tahu cara agar ia bahagia? Biasanya seperti itu, karena tidak mungkin anda bertemu orang yang baru anda kenal lalu langsung anda buat sakit hati, paling anda hanya dianggap gila.

Sedikit pengalaman yang akan saya ceritakan. Ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMP, saling mengatai teman dengan nama orang tua masing– masing adalah hal yang sebetulnya lazim dan saya bertaruh bahwa anda punpernah mengalami masa – masa saling mengatai nama orang tua teman yangmenyenangkan.

Waktu itu, teman saya dalam kondisi yang sedang buruk, dia sedang bertengkar dengan orang tua nya, alih – alih mencari kesenangan disekolah. Saya membuat suatu kesalahan tak disengaja (biarpun saya mengakui bahwa saya sangat salah dalam hal ini) yaitu: ‘’Akh dasar lu anaknya Pak ****’’. Seketika teman saya diam, saya ajak bicara tidak menyaut, saya dorong pun tidak bergeming, sebegitu marahnya ia sampai menganggap saya tidak ada.

Saya sadar, saya melakukan kesalahan fatal, dengan kesungguhan hati setiap pulang sekolah saya berjalan bersama dia dan selalu saya ajak mengobrol sekalipun dia tidak mengindahkan saya sama sekali, setiap hari libur saya selalu bermain kerumahnya, orang tua nya sangat baik kepada saya dengan mempersilahkan masuk sampai ke kamarnya, tapi ia tetap takmenganggap saya ada. Untungnya orang tua teman saya tidak tahu bahwa teman sayas edang marah kepada saya.
Hari demi hari, saya rutin melakukan itu terus. Intinya saya sangat bersungguh – sungguh sekali untuk mendapatkan kata maaf dari teman sayaini karena saya ingin melanjutkan hubungan pertemanan saya sampai saya mati.

Sekitar 4 bulan berlalu, kala itu Idul Fitri telah usai,ketika Idul Fitri saya kerumahnya untuk salam – salaman dan meminta maaf. Kala itu ia tak menggubris saya.

Lalu ketika SMP memulai kegiatannya kembali dengan halal bihalal oleh seluruh guru dan murid. Saya tak terlalu memikirkan jabat tangan teman – teman saya yang lain, saya hanya memikirkan kapan teman saya lewat didepan saya dan menjabat tangan saya sebagai awal yang baik.

Dengan sedikit perasaan ragu, ketika ia lewat di depan saya,saya bersungguh sungguh ingin meminta maaf nya. Dan, untuk pertama kali sejak insiden bodoh yang saya buat, ia menjabat tangan saya lagi, namun tanpa tersenyum. Perasaan senang sampai bersyukur ada dalam hati saya, jabat tangan ini lebih dari segalanya.

Ketika pulang, saya ajak bicara teman saya ini. Akhirnya, ia mulai mau membuka mulut setelah sekitar 4 bulan tidak pernah berbicara kepada saya. Saya mulai akrab lagi dengannya, hubungan pertemanan saya berangsur – angsur membaik.

Dan ketika kelulusan, saya menangis di depan teman saya, saya sedih karena akan ditinggalnya untuk melanjutkan pendidikan SMA di Kota Kembang. Sampai saat ini , saya masih melakukan kontak dengannya. Ya, tidak rutin, namun berarti.

Saya sangat paham, setiap orang di dunia ini pasti ingin memaafkan. Akan tetapi, jika yang membuat kita sakit hati meminta maaf hanya sebagai kewajiban saja, itu tentu akan membuat lebih sakit lagi. Meminta maaf via pesan teks ataupun via sosial media bukanlah minta maaf, itu hanya lebihcondong kepada sebuah syarat.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa hargai setiap perlakuan baik orang lain terhadap anda, karena perlakuan baik Tuhan kepada anda ketika anda menghargainya dengan bersyukur, niscaya Tuhan akan lebih baik lagi kepada anda, begitu pun manusia. Dan di kala Idul Fitri setiap manusia pasti saling memaafkan dan memberikan maaf. Namun, apakah anda ingin menunggu Idul Fitri tiba baru meminta maaf selanjutnya? Jawaban ada di pikiran dan hati anda sendiri, jika anda punya hati.

Rabu, 22 Mei 2013

[FanFiction] Oshiku, Ternyata....


Di suatu siang yang terik, kala itu ketika bel istirahat berbunyi, salah satu temanku yang membawa laptop langsung dikerubungi oleh teman laki-laki nya, ku hitung ada sekitar sepuluh orang lebih berkumpul bersama termasuk ada murid dari kelas lain. Pikirku “ngapain yah itu anak – anak pada ngumpul, wah jangan – jangan.....?” sontak terbayang hal – hal negatif dalam pikiranku. Namun terdengar bunyi “Lebih cepat dari hari di kalender. Aku pun menyingsingkan lengan baju” yang disambut oleh orang – orang yang menontonnya dengan teriakan “Shania! Choo Zetsu Kawaii! Melody!”.

Karena penasaran, akhirnya aku datangi mereka sembari bertanya “Pada nonton apa sih?”, lalu temanku yang membawa laptop itu menjawab “Oh, ini JKT48, video Ponytail To Shushu waktu di Mega Konser, keren deh nonton aja”, “terus itu pada ngapain tadi teriak – teriakin nama cewe” sautku, “itu tadi namanya nge-chant, biasa buat support member, abisnya kita ngeliat video aja geregetan sih, gimana kalo nonton theater yah? Hahahaha” Balasnya sambil tertawa yang di iringi sautan tertawa oleh teman – teman yang ikut menonton.

Dari penjelasannya tadi, ada yang masih mengganjal di hatiku, langsung saja kutanyakan “Eh iya, theater apa yah? JKT48 punya theater?”, “Iya, di lantai 4 Fx Senayan, hampir tiap hari mereka theater, ada Team J sama Trainee, yang Team J sekarang bawain setlist Renai Kinshi Jourei, yang Trainee sekarang bawain setlist Boku No Taiyou, nanti dirumah browsing aja deh kalo mau tau lebih banyak. Cuman gitu sih, caranya untuk dapet tiket nonton theaternya agak kompleks, ya maklum lah fans nya banyak hehehe” jawabnya yang sangat bersemangat karena ia tahu akan ada calon fans baru. “Oh gitu, yaudah oke deh, tertarik nih hehehe”. Balasku menyudahi perbincangan.

Waktu terasa cepat berjalan, tak sangka bel pulang sekolah sudah berbunyi dan aku segera pulang dengan cepat. Oh iya, aku sampai lupa memperkenalkan diriku. Namaku Danu, seorang siswa di salah satu SMA di Jakarta, sedangkan temanku yang membawa laptop tadi namanya Aldy, aku tidak terlalu akrab dengannya, namun karena JKT48 ini aku akan mulai mencoba akrab dengannya, begitu pun dengannya yang mungkin akan akrab denganku karena dia terkenal di sangat welcome di sekolah kepada orang – orang yang mulai tertarik dengan JKT48.

Karena sudah sampai rumah, langsung ku bersihkan badanku, ganti baju, serta makan siang sambil menyalakan komputer. Nah, disinilah awal penelusuran ku dengan JKT48, dari sini pula kutetapkan oshi-ku yaitu Shania! Karena semakin lama dilihat anak ini semakin manis, lucu sekali, setiap ku melihat gambarnya, selalu ada motivasi dari diriku untuk melakukan hal – hal yang lebih baik lagi. Yap, gadis yang sekarang berusia 15 tahun ini kutetapkan sebagai oshi-ku.

Sekali lagi waktu terasa begitu cepatnya, sudah 8 jam aku menelusuri tentang JKT48 di Internet. Pukul 22.00 ayah dan ibuku pulang dari kerjanya, langsung saja ku sambut “selamat malam!” sambil kucium tangan mereka, ketika ibu ingin menuju kamar mandi dan tak sengaja melihat monitor, ia pun berkata “kaya kenal itu, yang pake kuncir sama ada pemanis di dagu nya”. “Siapa mah? Perasaan kali hahaha”. “Iya kali ya perasan, hahaha. Oh iya, tadi mama di telepon saudara mu dari Jawa, katanya mbak Alice mau nikah tapi tanggal belum tau kapan, kita mesti siaga sih juga nih, mamah sama ayah juga udah siap ambil cuti sewaktu – waktu tanggalnya udah pasti” balas ibuku. “Iya mah, Danu ngikut aja” balasku mengakhiri pembicaraan.

Aku baru ingat bahwa terakhir kali aku pulang ke daerah asal orang tuaku serta tempat berkumpul keluarga besarku adalah 10 tahun lalu. “Masih inget ga yah sama wajah mereka – mereka, hehehe pasti udah pada gede – gede banget” diriku bicara sendiri di atas kasur yang kemudian terlelap.

Pagi telah datang, saatnya untuk sekolah. Diriku yang biasanya malas memberangkatkan kaki untuk menuntut ilmu namun hari ini sangat bersemangat karena kata – kata motivasi yang Shania berikan di setiap akun jejaring sosialnya, dan juga untuk melakukan banyak perbincangan kepada teman – teman fans JKT48 khususnya Aldy, diriku menahan diri hingga pulang sekolah supaya perbincangan menjadi lebih lama dan lebih efektif.

Bel pulang sekolah telah berbunyi, langsung kami semua para fans – fans JKT48 yang baru ini berkumpul, mereka memulai dengan pembicaraan video – video yang telah mereka lihat, tentang oshi mereka masing – masing, serta tak lupa video – video lucu yang oshi mereka buat dan diunggah di media internet. Aku pun menikmati saja apa yang teman – teman ku ini bicarakan, namun ada yang hal yang mungkin penting bagi diriku untuk dibicarakan “Eh kalian ada yang pernah ke theater? Kita ke theater bareng yuk!”, sontak wajah mereka langsung murung “Kita belum pernah ada yang ke theater” jawab Aldy, “Iya, lagian kalo mau nonton di theater agak ribet juga sih prosedurnya, ya kita maklumlah fans nya banyak banget Nu” tambah Rian, “Bener Nu, lagipula harga tiketnya juga bisa rata – rata seminggu jajan kita, kamu mau ga jajan?” Tanya Rikky. Diriku perlahan berpikir untuk memurungkan niat menonton theater. Namun, semangat untuk melihat Shania dari dekat tetap mendorongku untuk tetap menonton “Yaudah, kita berusaha keras aja, kan kita tau kalo usaha keras itu ga akan mengkhianati kan? Hehehehe”, “Bisa aja si Danu, kaya lirik Shonichi gitu yah? Hahaha” jawab Aldy, “Wah iya dong, yaudah siapa mau nonton theater? Kita bisa nabung sebelumnya, atau kita jual beberapa barang yang sudah tidak kita pakai lagi, gimana?”, “Wah, engga deh, kita udah mau deket Ujian nih, takut nanti ga ada uang kalau ada keperluan dadakan” timpal Rikky, yang lain pun setuju dengan Rikky dan mengatakan tidak bisa, namun Aldy berkata lain “Hmmm, aku sih ada tabungan, cukup lah buat tiket theater dan transport, soalnya kan kita harus mikirin transport juga, jangan sampe kita abis nonton theater kejebak ga bisa pulang, hehehehe”. “Wah bener, yaudah aku juga ada tabungan tapi ga tau cukup apa engga, kalau engga cukup nanti aku jual beberapa barang deh, nanti kita makannya dirumah yah” Balasku dengan semangat karena akhirnya ada juga teman yang bisa nonton theater bersamaku.

Setelah pulang dari sekolah, langsung kulihat tabunganku, ternyata masih kurang setengahnya jika termasuk transport, aku pun bingung dan ku tengok ke kanan dan ke kiri, barangkali ada barang yang sudah tidak terpakai yang bisa dijual. Setelah hampir frustasi, aku ingat bahwa di dalam laci adalah satu buah Handphone keluaran 5 tahun lalu, langsunglah kubawa Handphone itu ke gerai terdekat, penjaga gerai menawarnya dengan harga yang sangat turun dari harga awal. Namun, tanpa berpikir lebih lama lagi aku langsung menyetujui transaksi ini karena uang dari hasil penjualan Handphone tersebut sudah cukup untuk membeli tiket theater serta transport pulang pergi.

Oke, saatnya untuk melakukan pemesanan tiket theater. Aku sebenernya berharap banget aku dan temanku menang undian tiket, tapi aku sadar hal itu kecil kemungkinannya terjadi, karena aku saja belum tentu dapat tiket, begitu pun dengan teman ku. Maka dari itu, aku tidak terlalu berharap kegirangan karena takut kecewa. Yap, setelah melihat jadwal ternyata hari Sabtu ada theater dan bisa untuk dipesan, ditambah lagi Shania dan juga Ayana (Oshi-nya Aldy) perform pada hari itu, langsung saja ku sms Aldy “Dy, gimana duit cukup ga? Hari Sabtu bagus nih kayaknya”, “Iya duit cukup tenang aja, iya nih ada Ayana, ada Shanju juga lagi, udah tancap klik pesan hahaha” Aldy membalas sms ku dengan semangat.

Tiga hari berlalu, terhitung mulai dari hari Selasa semenjak kami berdua memesan tiket theater, kami selalu harap – harap cemas apakah kami menang atau tidak. Jumat pagi telah tiba, sebelum berangkat ke sekolah aku mengecek e-mail ku untuk melihat apakah aku menang atau tidak. Ketika aku membuka email, ada sebuah pesan bertuliskan “[Teater JKT48] E-mail Pengumuman Pemenang”. Langsung saja ku buka isinya yang bertuliskan “Selamat! Anda telah memenangkan tiket untuk pertunjukan teater JKT48”. Wah, betapa gembira nya diriku, langsung saja ku sms Aldy, berharap dia juga dapat tiketnya “Dy, gimana dapet ga? Aku dapet nih hehehe”, “Wah dapet juga dong, fix kita nonton bareng hahaha” balas Aldy dengan senangnya. Dari berangkat sekolah hingga pulang kami berdua selalu merasa bahagia, begitu pun ketika di sekolah, kami berdua selalu membicarakan tentang JKT48.





















Hari Jumat, kami pulang lebih cepat, Pukul 13.00 aku sudah sampai kerumah. Yang aku heran, ayah dan ibuku juga sudah sampai di rumah, mereka menyambutku dan ibuku mengatakan sesuatu “Danu, mamah besok telepon wali kelas kamu, ternyata saudara kita akad nikah besok dan perayaannya diadakan hari Minggu, kita sore ini sudah harus pulang ke Solo, Mamah sama Ayah juga udah ngambil cuti kok tadi di kantor, ayo Nu kita beres – beres pakaian”. Seketika harapanku langsung runtuh, pikiran ku yang tadinya akan bersenang – senang langsung menghilang, namun aku tak ingin di cap durhaka oleh orang tua “Yaudah mah, Danu beres – beres deh, sejam selesai langsung jalan” balas ku dengan kurang semangat.

Aku sms Aldy “Dy, mohon maaf banget nih, besok kayaknya ga bisa theater, mendadak ada kabar dari saudara kalau besok dia nikah, maaf banget yah Dy ga bisa nemenin”. “Oh yaudah, aku ngerti kok situasi, emang jadi serba salah mau gimana juga, besok aku theater-an sendiri sih kayaknya, yaudah hati – hati yah dijalan” Aldy membalas sms.

Jumat sore aku mulai berjalan menuju kampung halamanku. Disepanjang perjalanan aku hanya berdiam diri menatap keluar jendela mobil dan berpikir mengapa waktu nya bisa bersamaan seperti ini, disaat singgah ke warung makan untuk mengisi perut pun aku tidak nafsu melahap makanan, ibu ku sampai bertanya “Kamu kenapa sih Nu? Kok lemes gitu?”, “Iya nih mah, aku harusnya besok nonton theater JKT48, tapi waktu nya bentrok sama jadwal nikah yang mendadak ini, yaudah deh” balas ku dengan lesu, Ayah ku pun ikut berbicara “Hahahaha, nak inget utamain dulu keluarga, theater-an itu kan bisa lain hari, inget loh dekat dengan keluarga kamu berkah nak”, “Iya yah” jawabku menandakan menurut.

Saat di jalan jam menunjukkan pukul 23.00 . Perasaan bosan ku membuat ku tergerak untuk membuka twitter. Hanya bermaksud sekedar mengecek timeline, ada tweet dari Shania yang membuat ku cukup kaget “@ShaniaJKT48: Malem semua, mohon maaf karena suatu kepentingan aku ga bisa theater besok, maaf banget. Lain kali yah kita ketemu.”. Hmmm, ternyata pada hari dimana aku ingin menonton theater Shania berhalangan hadir, tiba – tiba sms dari Aldy masuk ke kotak pesan ku “Nu, Shanju ga bisa theater tuh kenapa yah kira – kira? Wah nge pas banget yah hehehe”, “Ga tau deh kenapa hehehe, tapi tetep aja sedih soalnya kapan lagi bisa menang tiket yah, bisa Shanju ga ada kan masih ada member lain yang kawaii, pokoknya masih agak nyesel” balasku.

Hari Sabtu tepatnya pukul 05:00 aku sampai di Solo, keadaanku yang masih mengantuk memaksaku untuk mengangkat tasku dari langsung masuk ke kamar yang telah disediakan untuk keluarga kecilku tidur. Ketika berjalan menuju kamar tersebut, kulihat sosok seorang gadis muda, yang sangat familiar dimata ku, namun karena rasa kantuk yang sangat kuat membuatku menghiraukan pandangan itu dan langsung tertidur pulas di kamar yang telah disediakan.

Ku bangun pada siang hari tepatnya pada pukul 13.00, suara – suara berisik dari luar tanda para saudara dan orang – orang terdekat sedang mempersiapkan akad nikah yang akan dilaksanakan malam harinya. Kubersihkan tubuhku dulu lalu kupakai baju dan aku keluar dari kamar. “Eh anak mamah udah bangun, ayo sini makan dulu, mumpung banyak makanan nih hehehe” sambut Ibuku dengan penuh senyum. Berhubung lapar langsung saja kuambil sepiring nasi yang didalamnya sudah banyak sekali lauk, aku duduk di salah satu dari banyak bangku yang telah dipersiapkan untuk akad nikah.

Ketika sedang asyiknya menyantap makanan, ada seorang ibu yang datang bersama seorang gadis muda menghampiriku dan ibuku. Ibu itu lalu bicara “Ibu Dian, ini si Danu yah? Udah gede yah kenalin ke anakku nih bu, dia mau naik ke SMA”. “Wah anak Ibu udah gede juga, Danu ini nih kenalin anaknya Ibu Junia” balas Ibuku yang juga memanggilku. Ku buka tanganku untuk berjabat sambil berkata “Halo, Danu”, “Halo, Shania” balasnya, “Oh iya iya”. 2 detik kemudian aku baru sadar bahwa itu benar – benar Shania, karena kaget tak sadar aku menelan makanan tanpa mengunyah nya “Ibu! Ini beneran Shania bu! Saudara kita darimana bu?” seraya kencang tanyaku kepada Ibuku dan Ibu nya Shania, “Iya nak, ini tuh Shania Sepupu kamu tapi sepupu jauh sih, Adiknya Ayah Om Ferry punya Istri dan Istri nya itu punya kakak yaitu Ibu nya Shania nak” balas Ibuku dengan senyum, “Iya Danu, makanya Mamah mu sama Ibu pulang ke Jawa supaya kita bisa saling kontak, kita soalnya lupa rumah kamu dimana” timpal Ibu nya Shania yang senyum nya manis seperti anaknya. Perasaan senang, kaget, campur aduk di hati dan pikiranku. Aku sambil terus memandangi ia dan berkata dalam hati “Makasih Ayah, ternyata perkataan Ayah memang benar, dekat dengan saudara itu membawa berkah”.

Tak kusangka oshi yang selama ini aku kagumi ternyata berdiri dihadapanku sebagai seorang saudara. Mulai saat ini dukungan penuh ku akan terus mengalir kepadanya :)